BESINFO.ID, CIANJUR – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Cianjur menyampaikan penyesalan mendalam atas munculnya komentar seorang oknum tenaga kesehatan yang dinilai tidak berempati terhadap pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau BPJS Kesehatan di media sosial. Kasus ini memicu sorotan publik setelah diketahui pasien yang menjadi objek komentar tersebut telah meninggal dunia.
Ketua IDI Cabang Kabupaten Cianjur, dr. Ronny Hadyanto, saat dikonfirmasi, Sabtu (8/8/2026), menyatakan pihaknya sangat menyayangkan terjadinya peristiwa tersebut. Menurutnya, setiap tenaga kesehatan memiliki kewajiban menjunjung tinggi etika profesi, tidak hanya saat berhadapan langsung dengan pasien, melainkan juga dalam setiap pernyataan yang disampaikan di ruang publik maupun media sosial.
“Menanggapi hal tersebut, IDI Cianjur sangat menyayangkan terjadinya peristiwa itu. Setiap dokter dan tenaga kesehatan senantiasa diingatkan untuk menjaga sikap, empati, dan profesionalisme sesuai sumpah serta kode etik yang diemban,” ujar Ronny.
Ia menjelaskan, pembinaan dan imbauan terkait etika bermedia sosial sejatinya telah rutin disampaikan kepada seluruh anggota, baik secara formal maupun nonformal di setiap tingkatan organisasi. Hal ini diperkuat dengan adanya Fatwa Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) terkait etika bermedia sosial yang telah diterbitkan sejak tahun 2021.
“Imbauan dan pembinaan etika sudah rutin dilakukan kepada anggota, baik secara formal maupun nonformal yang dilaksanakan oleh IDI di setiap tingkatan. Apalagi fatwa MKEK tentang etika bermedia sosial sudah diterbitkan sejak 2021. Fatwa tersebut menjadi pedoman bagi para dokter untuk menjaga profesionalisme, etika, serta kehati-hatian dalam menyampaikan pendapat di ruang digital,” tegasnya.
Terkait persoalan tekanan kerja atau kelelahan yang dialami tenaga kesehatan, Ronny mengakui IDI Cabang Cianjur belum memiliki bidang khusus yang menangani kesejahteraan dan dukungan psikologis anggota. Namun demikian, organisasi tetap membuka ruang konsultasi bagi seluruh anggotanya yang membutuhkan pendampingan maupun arahan.
“Untuk saat ini di Cianjur, IDI belum memiliki bidang khusus terkait hal itu. Tetapi IDI selalu terbuka bagi semua anggota yang ingin berkonsultasi mengenai apa pun dan senantiasa berupaya bersama mencari solusi terbaik,” ungkap Ronny.
Peristiwa ini kembali mengingatkan masyarakat luas akan pentingnya menjaga batas profesionalisme dan empati dalam profesi kesehatan. Komentar yang dinilai kurang pantas dan tidak berempati terhadap pasien—terutama yang telah meninggal dunia—menjadi sorotan bahwa etika profesi tidak bisa dipisahkan dari pelayanan, sekalipun komunikasi dilakukan melalui media sosial.
IDI berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bersama agar seluruh tenaga kesehatan senantiasa menjaga sikap, menjaga kerahasiaan pasien, dan menempatkan kepentingan serta kehormatan pasien di atas segalanya, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Awr




















