BESINFO.ID, CIANJUR — Musim kemarau yang berkepanjangan membiarkan Sungai Cisadea, urat nadi perairan di Kecamatan Sindangbarang, menyusut hingga mengering di sejumlah ruas alirannya. Namun di tengah kekeringan yang lazim disesalkan, warga Kampung Pasalakan Girang, Desa Sirnagalih, justru menjadikan lahan kering bekas aliran sungai sebagai ladang harapan baru.
Sopiroh (57), warga setempat, adalah salah satu yang memanfaatkan tanah yang dulunya tergenang air itu untuk menanam sawi hijau. Ia tidak menyerah pada kekeringan, melainkan beradaptasi dengan apa yang tersisa.
“Sungai sudah kering, air tak lagi mengalir seperti biasanya. Maka kami manfaatkan tanahnya untuk tanam sawi hijau. Tumbuhnya cepat, masa tanamnya pendek, modalnya pun tidak besar,” ujar Sopiroh di ladangnya, Rabu (23/9/2026).
Langkah sederhana ini membawa dampak nyata bagi kehidupan sehari-hari. Panen bisa dipetik dalam waktu singkat, dan pembeli justru datang sendiri.
“Biasanya orang yang lewat berhenti membeli. Satu ikat sepuluh ribu rupiah. Bagi kami, itu cukup untuk menutupi kebutuhan dapur sehari-hari. Tak perlu modal besar, cukup tenaga dan ketekunan,” tambahnya.
Marsitoh, warga lain yang ikut menanam, menyebutkan bahwa apa yang dilakukan sesungguhnya bukan sekadar bertani, melainkan bukti ketangguhan di tengah perubahan iklim yang kian nyata.
“Dulu air sungai ini deras, tak bisa diinjak apalagi ditanami. Sekarang kering, kami tidak mengeluh kami pakai lahannya. Sungai memberi rezeki dengan cara lain,” kata Marsitoh.
Fenomena ini sekaligus menjadi cermin ganda di satu sisi menunjukkan betapa kritisnya penurunan debit air sungai akibat perubahan cuaca dan kerusakan daerah tangkapan hujan, namun di sisi lain menampakkan daya lenting masyarakat yang tidak menunggu bantuan turun dari langit.
Pakar lingkungan mengingatkan bahwa kekeringan Sungai Cisadea bukan sekadar masalah musim. Penyusutan aliran ini berulang lebih cepat dan lebih lama dibanding tahun-tahun sebelumnya, yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah. Tanpa pemulihan daerah aliran sungai dan pengelolaan hulu yang ketat, kekeringan ini bisa menjadi permanen.
Namun untuk saat ini, di pinggir sungai yang kering itu, barisan sawi yang hijau berdiri tegak bukan hanya tanaman, melainkan bukti bahwa rakyat kecil tetap berdaya, sekalipun alam dan keadaan tak berpihak sepenuhnya. Awr




















