CIANJUR, BESINFO.COM – Diskusi publik yang digelar oleh Cianjur Governance Studies (CIGES) pada Sabtu (5/7) menelanjangi berbagai kelemahan dalam dokumen Rancangan Awal RPJMD Kabupaten Cianjur 2025–2029. Kegiatan berlangsung di Sekretariat CIGES, Jl. Gunung Gede No. 31 Cianjur, dengan dihadiri kalangan muda, peneliti, pegiat sipil, dan jurnalis independen.
Meski sebelumnya dijadwalkan akan dihadiri oleh Ketua Pansus RPJMD DPRD Cianjur serta Ketua PWI Cianjur sebagai pemantik diskusi, keduanya berhalangan hadir karena agenda di luar daerah. Meski tanpa kehadiran tokoh formal, diskusi tetap berlangsung dinamis dan kritis, dipandu langsung oleh tim analis kebijakan dari CIGES.
Kritik Terhadap Visi-Misi dan Narasi Politik
Direktur CIGES, Andika Rajasa, menyatakan bahwa RPJMD yang disusun saat ini tidak mencerminkan semangat dan narasi politik yang diusung saat kampanye.
“Frasa ‘Cianjur Era Baru’ yang menjadi jargon utama saat pilkada justru tidak muncul dalam dokumen RPJMD. Ini bukan hanya soal kehilangan kalimat, tapi kehilangan arah,” tegas Andika.
CIGES juga mencatat penyusutan jumlah misi dari enam menjadi lima tanpa penjelasan yang argumentatif. Selain itu, frasa “akhlakul karimah” yang digunakan dalam misi pertama dinilai normatif tanpa disertai indikator capaian yang jelas (Bab V, Hal. V-4).
Masalah Serius dalam Perencanaan dan Anggaran
Dalam telaah anggaran, CIGES menyoroti beberapa hal penting:
Proyeksi PAD dinilai terlalu optimis dan perlu dihitung ulang (Bab III, Hal. III-30)
Alokasi belanja harus lebih tajam menyasar sektor strategis seperti pendidikan, pertanian, kesehatan, irigasi, serta jalan-jembatan (Bab III, Hal. III-36)
Target 100% jalan mantap tahun 2029 perlu anggaran rata-rata Rp350 miliar per tahun (Bab III, Hal. III-33)
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) harus dibatasi maksimal Rp70 miliar per tahun (Bab III, Hal. III-39)
Penyertaan modal senilai Rp21 miliar di akhir periode RPJMD perlu diperjelas peruntukannya
Komentar Deden Abdul Azis: Tanpa Karakter, RPJMD Hanya Dokumen Mati
Kritik paling tajam disampaikan oleh Deden Abdul Azis, wartawan senior yang turut hadir dalam forum. Menurutnya, sehebat apapun isi RPJMD, dokumen tersebut akan sia-sia tanpa ditopang oleh karakter dan sikap tegas dari kepala daerah.
“RPJMD bisa saja disusun dengan tim konsultan, dengan data dan grafik indah. Tapi yang paling menentukan adalah integritas dan nyali dari bupatinya,” ujar Deden.
Ia bahkan menilai bahwa RPJMD Cianjur saat ini tidak mencerminkan karakter Bupati Wahyu, yang dianggap tidak menunjukkan kepemimpinan kuat dalam menghadapi tantangan pembangunan.
“Kita tidak bisa hanya berharap pada teks dan tabel. Harus ada bupati yang punya sikap, keberpihakan, dan ketegasan. Kalau tidak, ya ini hanya dokumen mati,” tambahnya.
CIGES: Saatnya Masyarakat Kawal Perencanaan Pembangunan
Diskusi ditutup dengan penegasan dari CIGES bahwa proses RPJMD bukan hanya urusan birokrasi, tapi ruang publik yang harus terus dikawal bersama. CIGES mengajak warga, komunitas sipil, dan media lokal untuk terlibat aktif dalam mengkritisi dan memberi masukan terhadap perencanaan daerah lima tahun ke depan.
“Ini bukan sekadar kritik, tapi bentuk cinta kami pada Cianjur,” tutup Andika Rajasa. (Red)




















