Bung Karno,
Hari ini haulmu kami peringati. Tentu saja, sebagian dari kami menggelar tahlilan, sebagian lagi diskusi nasionalisme di kafe ber-AC, sebagian lainnya sedang sibuk mengejar tender APBD.
Maafkan kami, Bung. Kami belum bisa menjalankan Trisakti. Tapi tenang, spanduknya kami pasang tiap bulan Juni. Kami ingat kok kata-katamu, meski hanya saat perayaan kenegaraan. Di luar itu, kami lebih suka mengutip kata-kata motivator TikTok. Lebih instan.
Politik? Kami Tak Lagi Berdaulat, Tapi Banyak Relawan
Berdaulat dalam politik, katamu. Tapi di sini, Bung, rakyat kami lebih sibuk foto bareng bupati ketimbang tanya soal RAPBD. Yang penting viral. Demokrasi bukan soal suara rakyat, tapi suara “yang punya suara”.
Kampanye bukan soal ideologi, tapi strategi branding. Kami lebih hafal warna partai daripada pasal-pasal konstitusi. Rakyat? Sudah biasa disapa hanya saat musim pemilu dan dilupakan di musim pelantikan.
Ekonomi? Kami Berdikari di Ujung Utang
Soal ekonomi berdikari, sepertinya kami sudah terlalu berdiri… di atas kaki investor luar. Petani merugi, lahan-lahan menyusut, tapi tak apa—ada rencana bangun pusat perbelanjaan baru. Konon katanya, pembangunan.
UMKM kami bangga difoto saat pembukaan, tapi dilupakan saat mereka butuh modal. Subsidi dipotong, pajak naik. Tak apa, asal proyek infrastruktur terus jalan. Jalan kami halus, perut kami kosong. Setengah berdikari, setengah berutang.
Budaya? Kami Berkepribadian di Instagram
Tentang budaya, Bung, kami masih punya kesenian mamaos, silat, dan bahasa Sunda. Tapi hanya dipanggil saat ada tamu dari provinsi atau menteri datang. Selebihnya, kami lebih suka menyewa badut dan organ tunggal di acara desa.
Anak-anak kami lebih tahu dance Korea daripada tarian jaipong. Bahasa lokal dianggap ndeso. Dan ya, Bung, banyak yang malu jadi orang kampung, tapi bangga kalau jadi konten “orang hilang di kota”.
Bung, Maaf !
Bung Karno, maafkan kami. Kami mungkin masih sering mencatut namamu untuk pidato dan sambutan. Tapi gagasanmu, Trisakti, Pancasila, Marhaenisme, sudah lama disimpan di lemari besi. Bukan untuk dilupakan, hanya untuk dikunci.
Namun jangan khawatir, Bung. Masih ada sebagian kecil yang tak menyerah. Mereka membela petani, menjaga bahasa ibu, menulis buku, menggelar diskusi kecil di bale desa. Masih ada anak-anak muda yang tak puas hanya jadi buzzer dan relawan politik.
Dan semoga, di antara mereka, lahir kembali “Bung-Bung kecil” yang kelak benar-benar mengguncang dunia, bukan hanya mengguncang algoritma.
Selamat haul, Bung. Doa kami menyertaimu. Tahlil kami khusyuk. Tapi PR kami menumpuk. (Ebes)




















