BESINFO.ID, CIANJUR – Ketegangan terjadi di Kampung Pasir Cina Girang, Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, setelah sebuah alat berat milik kontraktor perusahaan melintas tanpa koordinasi dengan warga setempat. Peristiwa ini memicu keresahan dan mendapat sorotan dari aktivis serta masyarakat.
Ario Prima, aktivis Gerakan Suryakencana, mengungkapkan bahwa pada Minggu dini hari, 11 Januari 2026, sekitar pukul 02.00 WIB, sebuah ekskavator terlihat melintas di wilayah RW 002 dan RW 003. Jalur tersebut selama ini dikenal sebagai kawasan simbol penolakan warga terhadap proyek panas bumi (geothermal).
“Kami sangat menyesalkan tidak adanya pemberitahuan kepada warga dari pengurus RT/RW. Meski BPBD menyebut para Ketua RW sudah diinformasikan, faktanya informasi itu tidak sampai ke masyarakat,” ujar Ario kepada wartawan Besinfo.id, Senin (12/1/2026).
Berdasarkan hasil konfirmasi, alat berat tersebut merupakan milik kontraktor yang disewa PT Daya Mas Geopatra Pangrango untuk pembuatan akses jalan menuju area Ciguntur, dan bukan milik instansi pemerintah seperti BPBD.
Menanggapi kejadian tersebut, Ario Prima dengan tegas meminta agar seluruh alat berat milik kontraktor perusahaan tidak lagi melintasi jalur yang selama ini ditolak warga.
“Silakan ambil jalur lain. Jangan membuat heboh dan memicu kerumunan massa. Alat berat yang sudah terlanjur dibawa ke atas harus diturunkan kembali dan tidak disimpan di sini. Tidak adanya pemberitahuan telah menimbulkan kecemasan di tengah warga,” tegasnya.
Ia juga mengimbau kepada seluruh aparat desa, termasuk Ketua BPD, Kepala Desa, dan Sekretaris Desa, agar memberikan teguran resmi kepada pihak perusahaan.
“Sampaikan kepada perusahaan agar tidak mengulangi perbuatan membawa alat berat melalui jalur penolakan, yaitu RW 002 dan RW 003 Kampung Pasir Cina Girang. Lewat mana pun silakan, asalkan tidak memicu kerumunan dan keributan,” tambah Ario.
Kekhawatiran akan potensi sabotase atau kejadian yang tidak diinginkan turut disampaikan, mengingat adanya konsentrasi massa sebagai bentuk penolakan warga. Ario menekankan pentingnya transparansi dan komunikasi terbuka.
“Jika semua dilakukan di jalan yang benar, tidak ada yang perlu disembunyikan. Kami hanya meminta kejelasan dan komunikasi yang baik,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi masih dalam pengawasan. Warga menuntut kejelasan serta komitmen perusahaan untuk menghormati kesepakatan dan menjaga ketenangan lingkungan. Pihak PT Daya Mas Geopatra Pangrango maupun pemerintah desa belum memberikan pernyataan resmi terkait protes tersebut. (way)




















