BESINFO.COM, Cianjur – Di Cianjur, waktu bergulir seperti kabut yang turun pelan di ladang singkong: tak terasa, tapi menebal. Seratus hari sudah Wahyu duduk di kursi bupati, kursi yang katanya berat, tapi kini tampak nyaman dikelilingi tepuk tangan, bukan peluh rakyat. Dalam rentang waktu itu, Cianjur berjalan, entah ke mana. Langkahnya pelan, nadanya datar, iramanya lebih mirip dengkuran birokrasi ketimbang denting perubahan.
Di tengah laju yang lambat itu, satu hal paling mencolok dari wajah kota adalah kerlip lampu-lampu kecil yang menggantung di batang pohon kelapa. Kota dihias seperti pelaminan. Pohon kelapa dijadikan tiang gantungan cahaya, lampu hias mungil berkelip seperti mimpi-mimpi yang ingin tampak indah dari kejauhan. Tapi ketika kaki melangkah ke tanah, genangan masih memantulkan percikan, got tetap mampet, dan jalan ke kampung masih menyisakan lumpur setinggi mata kaki. Pembangunan menyala ke atas, padahal yang butuh terang justru tanah yang diinjak warga saban hari. Seolah-olah Cianjur sedang membangun langit, bukan bumi.
Wajah Bupati Wahyu tersenyum lebar di setiap spanduk, dicetak raksasa di depan kantor dinas, pasar, bahkan pos ronda. Ia tak berbicara, tapi seolah terus berkata, “Lihatlah, aku bekerja.” Namun rakyat tak sedang mencari gambar, mereka mencari arah. Seorang penjual gorengan di Sukanagara menyindir lirih, “Lampu boleh berkedip, Pak, asal jangan mata kami yang terus dikedipin janji.” Di Warungkondang, seorang guru honorer mengeluh bahwa honor bulanannya tertahan lagi. Di Sindangbarang, petani menunggu pupuk seperti menunggu hujan di musim kemarau.
Janji-janji Wahyu, yang semula penuh gairah, reformasi, keterbukaan, percepatan, kini tergantung seperti lampu di batang kelapa: cantik dari jauh, tapi tak menerangi jalan setapak. Musrenbang digelar dengan kamera dan pidato, tapi usulan rakyat kerap gugur di meja tengah. Rapat dilakukan, tapi keputusan datang dari ruang tertutup. Seratus hari ini lebih banyak dihuni kalimat pembuka, bukan aksi pembuktian. Yang terlihat baru panggung, bukan peta arah. Yang terdengar baru gema, bukan gerak nyata.
Pohon kelapa, dulunya ditanam untuk kehidupan. Airnya segar, daunnya teduh, batangnya kokoh. Kini ia jadi gantungan dekorasi, tanpa fungsi, hanya simbol. Seperti kekuasaan yang lupa akar. Sementara itu, di pelosok-pelosok Cianjur, sekolah rusak masih berdiri seperti kandang ayam. Menurut data Dinas Pendidikan, ada lebih dari 150 ruang kelas dasar yang butuh perbaikan mendesak. Anak-anak melewati jalan lumpur ke sekolah, sepatunya digantung di leher agar tidak basah. Tetapi dari pusat kota, Cianjur tampak indah, selama kamera tidak diarahkan ke tanah.
Wahyu belum gagal. Tapi ia juga belum benar-benar mulai. Yang lahir baru ornamen, bukan arah. Yang bersinar baru lampu, bukan kebijakan. Yang dipasang baru citra, bukan sistem kerja. Cianjur tidak butuh cahaya dari pohon kelapa. Cianjur butuh terang dari keputusan yang berpihak dan berpijak di bumi. Dari kebijakan yang berani turun ke kampung, menyusuri jalanan yang rusak, dan mendengar langsung suara yang tidak terdengar di meja-meja birokrasi.
Seratus hari adalah waktu yang cukup untuk menunjukkan ke mana kaki hendak melangkah. Tapi jika yang ditinggalkan hanya bayangan, rakyat hanya bisa menebak: apakah pemimpinnya sedang bergerak, atau hanya berdiri di bawah sorotan lampu? Langit Cianjur masih terbuka. Dan rakyat masih mau menunggu. Asal yang ditunggu bukan lagi gambar, melainkan gerak nyata yang bisa disentuh, dirasakan, dan ditapaki, dari lembah hingga gunung, dari alun-alun hingga sawah. Penulis : Sahira sagara Mahasiswa Unsur.

















