BESINFO.COM, Cianjur – Suasana rapat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Cianjur biasanya berjalan tertib, tapi ada satu momen yang tak pernah dilupakan para kepala OPD. Sebuah peristiwa sederhana, namun jadi pelajaran penting soal gaya komunikasi dan etika dalam ruang rapat.
Adalah Bupati Wahyu, sosok pemimpin yang dikenal kalem dan penyimak sejati. Ia bukan tipe yang mudah naik suara, tapi semua orang tahu, saat beliau bicara, suasana harus tenang dan penuh perhatian. Maklum, Bupati termasuk tipe auditori—lebih suka menyimak dan memberi respons setelah benar-benar paham persoalan.
Namun, suasana rapat kala itu berubah tegang ketika tiba-tiba Sekda menyela arahannya. Bupati yang sedang serius memberikan instruksi, mendadak menghentikan kalimatnya, memandang ke arah Sekda, lalu dengan nada tenang tapi penuh makna berkata:
“Kalau tidak bisa mendengarkan, silakan keluar.”
Hening. Tanpa banyak debat, Sekda pun diminta meninggalkan ruang rapat. Para kepala OPD hanya bisa saling pandang—antara kaget, kagum, dan… sedikit panik.
Sejak kejadian itu, ada semacam kesepakatan tak tertulis di Pendopo: kalau Bupati sedang berbicara, semua harus fokus. Bukan karena takut, tapi karena itulah bentuk penghormatan atas gaya kepemimpinan yang menghargai proses mendengarkan.
Kini, rapat-rapat bersama Bupati Wahyu cenderung berlangsung tertib. Semua paham, bukan waktunya interupsi apalagi debat kusir. Yang utama adalah mendengarkan dulu, baru berbicara kemudian.
“Pak Bupati itu bukan marah tanpa sebab,” kata salah satu pejabat. “Beliau ingin suasana rapat itu efektif. Jangan ada yang potong sebelum waktunya. Itu soal etika.”
Dan begitulah, dari satu momen kecil, lahir budaya baru dalam birokrasi Cianjur: diam ketika perlu, bicara ketika diminta, dan jangan sekali-kali menyela saat Bupati bicara.(Best)




















