BESINFO.ID, Cianjur– Peringatan seratus tahun masuknya Ahmadiyah ke Indonesia yang digelar di wilayah Kecamatan Cibeber mendapat penolakan dari sejumlah organisasi massa (ormas) dan elemen masyarakat.
Massa tergabung di Jamaah Muslim Ahmadiyah Indonesia (JMAI) yang kadung berkumpul perlahan membubarkan diri setelah mendapatkan peringatan.
Ketua FPI Kabupaten Cianjur Habib Hud Al-Idrus mengatakan, ormas gabungan FPI, Pemuda Pancasila (PP), Banser, FKPPI dan lainnya meminta acara yang digelar Jemaat Ahmadiyah dihentikan.
Hal itu mengacu kepada Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri terkait larangan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan masyarakat yang ini memerintahkan untuk menghentikan kegiatan penyebaran fahamnya yang tidak sesuai dengan penafsiran umum Islam.
“Kami meminta acara tersebut harus ditutup, selama SKB 3 menteri itu tidak dicabut,” kata Habib Hud.
Habib Hud menambahkan, berdasarkan informasi yang didapatkan, acara tersebut berlangsung serentak se- Jawa Barat.
“Setahu saya acaranya se-Jawa Barat diadakan di Cibeber, makannya kita kaget,” ujarnya
Mengenai jumlah Jemaat Ahmadiyah di Cibeber, Habid Hud mengaku, tidak mengetahuinya, hanya saja mendengar bahwa mayoritas yang hadir di peringatan seratus tahun masuknya Ahmadiyah ke Indonesia merupakan warga Kecamatan Campaka.
“Yang saya dengar secara pastinya tidak tahu, cuman yang banyak itu bukan di Cibeber nya, tetapi di Campaka nya,” paparnya.
Selama ini kata Habib Hud, sudah ada upaya dari MUI Kabupaten Cianjur terkait larangan jemaat Ahmadiyah melakukan kegiatan yang berpotensi menyebarkan fahamnya, tetapi para jemaat terkesan acuh dan mengabaikan.
“Kita sudah meminta MUI untuk menyelesaikan hal ini dan pada dasarnya sudah disampaikan, tetapi jemaat Ahmadiyah ini ngeyel,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia kegiatan tersebut, H. Asep Hisamudin mengaku, pelaksanaan kegiatan tersebut menandakan organisasi jemaat Ahmadiyah legal di mata negara.
“Organisasi kita legal, taat, dan patuh kepada negara. Ini adalah prinsip dasar kami dalam berkarya untuk bangsa dan agama,” kata H. Asep. (Awr)




















